Fii Amanillah, Diri Pendamba Surga!


Muhammad Fawwaz Rifasya | Jalur Kereta Api Selatan Pulau Jawa, Indonesia

Kereta Api Parahiangan

Foto Karya Andreva Moogle dari Flickr

 

“Jalan lurus itu diikat oleh satu hakikat. Yakni beribadah hanya kepada Allah satu-satunya, tiada sekutu bagiNya. Bahwa di dalamnya ada nestapa dan derita, ia hanya penggenap bagi kebersamaan dan cinta. Bahwa di dalamnya ada kehilangan dan duka, ia hanya penguat bagi sikap syukur dan menerima. Bahwa di dalamnya ada pedih dan siksa, ia hanya penyempurna bagi rasa nikmat dan mulia” [1]

 

Suara anak kecil yang girang hilir mudik menemani rasa yang ikut terombang-ambing tarian kereta Lodaya pagi. Ya, negeri keraton – nomenklatur kesukaannya – hendak aku pergi entah yang keberapa kali. Perjalanan yang akan terus kulalui hingga urusanku selesai. Akan selesai juga apabila hidup telah memaksaku untuk memutuskan.

Negeri Priangan, tempat kelengkapan rasa tumbuh dan berdinamika. Ya rasa yang lengkap, bukan warna warni rasa. Fluktuasi bak negara terserang kelaparan namun tiba-tiba surplus cadangan pangan. Memaksa dialektika menuruti permintaan hati yang selalu dijegal akal. Transkrip simbol, layaknya membaca buku pada organ hidup selalu mendekati riil. Aksara yang kutunggu namun ku takut. Setan telah berperan besar atas ketakutanku. Warga tetap negri neraka ini memang lihai memainkan hati. Ketidak absahan relasi dibuatnya indah. Yang bertujuan lillah, malah menjauhkan dari berkah. Aksara tajam tapi benar. Aksara yang menghujam tapi indah. Dua puluh Mei malam, dalam dekap hangat keluarga – dikirim dari dinginnya suasana gunung selatan – sebuah keputusan.

Sial memang setan, membuat keindahan ini seakan menyesakkan. Perlu ku siram apa agar setan tak turut campur dalam kekonsitenanku mengabdi di jalan yang mayoritas orang benci. Memang benar Salim berkata, jalan yang lurus belum tentu mulus. Terjalnya kadang mengguncang. Bisingnya celotehan menghilangkan hening tenang. Biasannya membuatku terlihat sebagai pecundang. “Gusti, segera tebalkan benteng defensif ini!” ujar seorang bocah yang tak lagi ingusan. Seorang bocah yang selalu bersembunyi dibalik senyuman.

Padi bersemayam syahdu di alur selatan pulau Jawa. Kuningnya padi ingin melupakan biru yang tercipta. Hijau pepohonan berusaha mendominasi kelabu yang ada. Sang musafir merenung dalam doa. Dia percaya langit akan menghujaninya dengan kabulan dari jampi yang diucapkannya.

Memori akan selalu ada, selagi tak amnesia. Memori selalu hidup, tak ingin kuredup.

Biarlah menjadi pembelajaran dan titik tolak untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya.

Fase lelah dalam safar ini belum klimaks.

Fii amanilah diri yang mendambakan surga !

 

 

 

 

Daftar Pustaka

[1] Fillah, S. A., 2015. Mengemudi Hati di Jalan Lurus. [Online]
Available at: https://salimafillah.com/mengemudi-hati-di-jalan-lurus/
[Diakses 16 Juni 2017].

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *