Saya Masih Bodoh Bukan Berarti Menolak Pintar


Ramadhanti Firmaningsih* | Yogyakarta, Indonesia

 

Saya Masih Bodoh

Ilustrasi oleh Fenindha Nur Fatimah

Kak, Aku Mau Belajar

Sebelum tuntas menjadi sebuah bacaan yang panjang nantinya, saya ucapkan permohonan maaf, karena dalam kebodohan dan ketidakbiasaan saya dalam menulis, ini akan memerlukan waktu cukup lama hanya sekedar untuk mencerna.

Beberapa waktu belakangan saya dihadapkan pada kegelisahan sekaligus keinginan kuat luar biasa untuk menjadi –kaum intelektual. Atau paling tidak menjadi mahasiswa yang tidak hanya mengandalkan pemikiran teman saya yang lain yang selalu saya rasa sudah mampu meng-cover segala sesuatu yang bahkan belum pernah saya katakan. Itu yang akhirnya membuat saya selama berbulan-bulan menjadi mahasiswa cukup ‘enggih-enggih’ saja sebab kalau tidak ‘enggih’ saya punya apa? Maaf jika mungkin saya bersumbu pendek dalam memaknai intelek disini karena pemahaman yang masih jauh dari apapun itu.

Pertama, Terima Pengakuan Saya

Sangat menyakitkan menjadi mahasiswa yang tidak bisa beropini seperti teman-teman yang suara dan tulisannya mampu mendapat sanjungan, kritik, pertanyaan, bahkan anekdot-anekdot yang tidak pernah saya tahu apa itu karena ya, saya masih bodoh. Tapi saya tetap mengapresiasi diri saya yang tidak malu untuk bereksplorasi, mencari tahu apa itu ‘ini’, apa itu ‘itu’, apa itu ‘anu’, dan apa itu yang sedang tubir di sosial media. Meski tak jarang teman yang saya tanyai harus kembali menjelaskan halaman dua dari dua juta halaman yang sudah mereka baca. Saya hanya bisa meminta maaf sebesar-besarnya harus setertinggal itu. Bukan keinginan saya terlambat berkembang, namun saya berusaha kuat untuk belajar. Saya tidak jarang harus melawan apa yang sejatinya saya demi menjadi pintar, tanpa kehilangan diri saya ssendiri.

Kedua, Banyak yang Ingin Saya Tanyakan

Bagaimana kalian sepintar itu sedangkan saya belum? Saya merasa kita memulai semua bersama-sama, tapi sepertinya, tidak, ya? Saya sedih sekali mengetahui kemauan kuat dalam diri saya untuk belajar namun tidak tahu harus berlari secepat apa untuk mengejar ketertinggalan ini. Saya buruk dalam membaca, dan saya tau itu buruk. Bagaimana mungkin saya bisa menjadi intelektual kalau membaca saja ibaratnya masih dieja? Kalau tidak salah, sama saja ingin membangun istana dengan membuang jauh tiangnya. Instan terlalu menarik memang. Sayangnya itu tidak bisa dilanggengkan. Saya harus mulai mengejar, kan?

Ketiga, Ingatkan Saya Pelan-Pelan

Bagi orang yang belum pernah menulis ataupun bersuara, pantas jika tidak pernah ada kritik dan saran yang saya terima. Jadi, andai suatu waktu saya mulai berani memperlihatkan muka, dan kiranya itu tidak baik, kurang benar, belum layak, ingatkan dengan hati-hati. Saya takut kemudian tidak berani lagi mencoba. Dan boleh jadi itu terjadi tidak hanya pada saya.

Keempat, Ini Bukan Saja Persoalan Ingin Eksis

Dari pada bicara soal eksis saya lebih suka bicara tentang resah. Saya resah jika saya mendengar tapi tidak paham dengan apa yang saya dengarkan. Saya resah bahwa mungkin saya merasa sangat tahu padahal semua sebatas apriori, saya terlalu terbiasa menjadikan asumsi pribadi sebagai satu-satunya pilihan yang dapat saya tawarkan. Padahal jika mau belajar, saya bisa menawarkan lebih dari sekedar asumsi, pasti. Jadi saya resah jika selama mendengar dan beraktivitas apa saja, katakanlah, saya hanya menyumbang telinga, mata, dan organ lain tanpa meletakkan fungsi masing-masing dengan pas. Atau barangkali saya resah karena saya takut tidak eksis? Boleh jadi.

Kelima, Harusnya Menjadi Simbiosis Mutualisme

Saya paham, dalam belajar bersama yang terpenting adalah saling mengambil pelajaran. Jadi saya menawarkan permintaan maaf jika sementara waktu mutualisme semacam itu diganti dulu dengan komensalisme. Saya mendapat banyak dari kalian, kalian tidak mendapat apa-apa dari saya, tapi semoga saja juga tidak merugi. Yang jelas itu tidak lama, hanya sampai saya terbiasa dengan kultur berpikir, menanya, membaca, mengeksplor, dan lain sebagainya.

Terakhir, Saya Bodoh Bukan Karena Menolak Pintar

Bahkan saat saya belum tahu sejauh mana pintar itu, saya sudah ingin menjadi pintar. Atas segala konstruki tentang pintar yang dibangun selama saya hidup, pintar adalah keinginan atau bahkan ambisi. Tapi sebentar, atau barangkali bodoh dan pintar itu tidak ada? Sekat diantara keduanya hanyalah semu dan tiap orang secara bebas menentukan setebal apa beda diantaranya? Tidak tahulah, bagi saya pintar itu baik dan bodoh berarti sedang berproses menjadi baik.

Saya memang masih bodoh, saya belum pintar, tapi bukan karena saya menolaknya. Barangkali saya terlalu sibuk meyakinkan diri sendiri tentang keharusan menjadi pintar tanpa memikirkan bagaimana caranya. Yang jelas, terima saya sebagai orang yang berkemauan keras menjadi orang yang pintar bukan sekedar untuk mencari popularitas atau apapun itu. Saya ingin pintar, karena dalam kebodohan ini, saya resah. Saya ingin menjadi pintar, sebab saya perempuan yang suatu hari akan menjadi seorang ibu. Akan menjadi madrasah bagi produk surga yang Tuhan titipkan 9 bulan dalam rahim saya, nantinya. Untuk itu izinkan saya menjadi pintar, temani dan ingatkan. Saya ingin menjadi pintar bukan saja untuk saya sendiri, namun generasi setelah saya. Saya ingin menjadi pintar karena saya sadar, tetap bodoh berarti menghianati perjuangan bapak dan ibu saya selama belasan tahun lamanya.

Terimakasih telah menjadi pembaca yang sabar dan penuh antusias. Salam hangat dan ceria, dari saya, perempuan yang gelisah dan takut sekali menjadi cercaan karena bodohnya belum juga selesai.

*Penulis merupakan Menteri Internal Korps Mahasiswa Politik dan Pemerintahan UGM 2017 dan mahasiswa Departemen Politik dan Pemerintahan 2016

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *