Suarakan, Galakkan, Kawal ! Perjuangan Tak Berhenti Selepas Dua Mei


Dhiemas Fajar Victoriawan dan Muhammad Fawwaz Rifasya* | Balairung Universitas Gadjah Mada, Indonesia

Orasi Aksi 2 Mei 2017 UGM

Orasi Aksi 2 Mei 2017 UGM – Captured by Nanda Handaru

 Dari anggukan dan saling pandang, berubah menjadi bisik-bisik. Dari derau kasak-kusuk menjadi

gemuruh teriakan-teriakan membenarkan [1]

 |
Suara-suara keresahan menggelegar ke dimensi maya ketika dimensi nyata tak seindah ekspektasi. UKT Keprofesian yang dipermasalahkan berujung surat pemanggilan dari pihak Dekanat (Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan) dan dipaksa untuk membuat surat permohonan maaf karena dituduh mencemarkan nama baik. Apakah UGM takut reputasinya tercemar karena tujuh mahasiswa FKG menyuarakan kebenaran? Jika UGM sadar ada kesalahan dalam hal tersebut, mengapa lebih memilih menekan dan membungkam bukan segera berbenah dan memperbaiki diri?
 |
Cuplikan peristiwa di atas hanya satu dari sekian permasalahan yang hadir selama satu tahun ini. Mahasiswa-mahasiswa yang bersuara tidak hanya tergerak karena kepentingan mereka. Mereka bersuara untuk menjelaskan pada masyarakat luas tentang luka teman-teman mahasiswa yang sama seperti luka mereka. Mahasiswa-mahasiswa yang memberanikan diri bersuara di atas bisik-bisik suara rintihan teman-temannya. Mahasiswa-mahasiswa yang mencoba mengagregasikan keresahan teman-temannya, yang membungkam karena takut, yang beku karena luka, hingga infeksi karena terlalu lama terluka dan tak kunjung terobati.
 |
Jika ada yang berujar, “ya jika mau memberikan masukan, bicara baik-baik jangan menggunakan cara konfrontatif dengan tulisan” balas saja dengan pertanyaan “apakah dalam menyampaikan kritik yang membangun harus selalu menggunakan cara yang membuat para pemangku kebijakan nyaman?”
 |
2 Mei yang setiap tahun diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional bagi penulis merupakan sebuah pengingat terhadap apa-apa saja yang terjadi di universitas yang katanya kerakyatan, paling transparan, dan terbaik se-Indonesia.
 |
2 Mei yang lalu, Mahasiswa memperingati Hari Pendidikan Nasional dengan menyelenggarakan aksi bersama. Dimana mahasiswa menyampaikan diantaranya beberapa tuntutan: menolak kenaikan UKT, menolak uang pangkal di Jalur Mandiri, Menuntut dicairkannya tunjangan kinerja (tukin) tenaga didik selama 18 bulan, menuntut re-evaluasi range UKT dalam beberapa prodi, serta menuntut diperhatikannya tanggungan keluarga dan lain-lain dalam formulasi penetapan jumlah UKT.
 |
Setelah 2 Mei berlalu, secara perlahan mahasiswa yang mulai disibukkan oleh urusan-urusannya mulai lupa, bahwa ada janji yang harus ditagih, ada hutang yang harus dibayar, ada kebijakan yang harus dikawal. Hingga 1 tahun kemudian, benar-benar hanya segelintir tuntutan yang telah terpenuhi. Penyesuaian range UKT di Fakultas Biologi, pertimbangan beban dan pengeluaran orang tua dalam penentuan nominal UKT, serta SOP penyesuaian dan penurunan UKT hingga kini hanya menjadi janji manis, yang menunggu untuk ditagih.
 |
Sikap represif universitas terhadap mahasiswanya yang tercermin dalam kasus pelarangan penggunaan nama Kajian Strategis dan Aksi Propaganda di Sekolah Vokasi hingga surat panggilan dan paksaan untuk membuat permintaan maaf karena menyuarakan keresahan di Fakultas Kedokteran Gigi menambah deretan nilai merah dalam rapor universitas. Belum lagi, klaim-klaim mengenai portalisasi, kebijakan karcis kuning, serta pemberlakuan jam malam atas nama keamanan dan kenyamanan kampus Educopolis yang pada akhirnya hanya berujung pada kebijakan setengah hati, nirfaedah.
 |
Sudah cukup, kawan-kawan. Sudah cukup kita diam, bersabar, dan menunggu mereka untuk sadar dan menjadi lebih baik tanpa perlu kita kritik. Apalagi yang dapat kita harapkan apabila memegang janji yang terucap lantang saja mereka sudah tak bisa? Hanya ada satu cara: Suarakan, Hentakkan, Kawal! Sudah cukup perjuangan mahasiswa hanya bersifat peringatan monumental. Sudah cukup setiap tahun kita mengulangi tuntutan-tuntutan yang sama, meneriakkan hal yang sama, dan ditahun depan, menagih kembali janji-janji yang telah lama.
 |
Mari menulis! Mari menggambar! Mari berteriak! Mari bergerak selagi jantung masih berdetak! Empati kita diperlukan dengan cara apapun yang kita mampu melakukannya.
 |
Jika tetap memilih diam, itu suatu pilihan yang tak salah. Diam bukan berarti mendiamkan masalah. Diam bisa saja ledakan ekspresi yang tertahan. Namun diam bukan berarti tanpa risiko. Diam tetap memiliki konsekuensi. Baik konsekuensi terhadap sasaran pergerakan ataupun pergerakan itu sendiri.
 |
Isu-isu pendidikan seharusnya terus digaungkan. Jangan lagi menjadi sekedar event tahunan, hanya ramai saat momen monumental. Kini tugas kita terus mengawal segala tetek-bengek isu pendidikan. Mulai dari interval UKT hingga dikekangnya kebebasan berekspresi dan berdiskusi mahasiswa yang sudah intens muncul di timeline dengan hashtag #ResahmuResahku. Ya, itu tugas kita. Bukan hanya tugas para tokoh-tokoh pergerakan kampus. Bukan sekedar pemangku jabatan struktural dalam “student government”. Bukan sekedar tugas orang-orang yang vokal menyuarakan. Aktivis hingga pasivis. Mahasiswa yang sepulang kampus dapat duduk manis di rumah makan mewah hingga mahasiswa yang sepulang kampus duduk meringis tangis memikirkan esok makan apa. Mahasiswa kupu-kupu, kunang-kunang hingga kura-kura (red: kuliah-pulang ; kuliah-nangkring ; kuliah rapat). Selama kita adalah manusia yang dapat berempati, ini tugas kita!
 |
Momen 2 Mei 2017 ini harus dipandang sebagai refleksi dan pemantik pergerakan. Refleksi bagaimana kita seharusnya terus mengawal hingga poin-poin tuntutan tercapai. Pemantik untuk tidak melupakan dan berhenti sebelum tuntutan tercapai.
 |
Momen 2 Mei 2017 ini bukan hanya tentang mahasiswa fakultas A,B,C,D saja ; bukan hanya tentang ego-ego sektoral sekedar membuat masalah yang sebenarnya tiada, dan bukan pula tentang berjuang hanya untuk menunjukkan bahwa kita ada. Ini tentang perjuangan, untuk mengubah dan memberantas kebobrokan sistem pendidikan yang akan kita wariskan untuk anak cucu kita. Tentang perjuangan melawan, dan membuktikan bahwa kita peduli terhadap kampus kita. Ini tugas kita!
 |
 Pancasila jiwa kami
 Bakti untuk negeri
 UGM bersatu
 Jayalah Nusantaraku !

#ResahmuResahku

#bUKTIcinta

#2Mei

 |
Daftar Pustaka
[1] Fillah.S.A. Bersamamu di Jalan Dakwah Berliku. 2016. Yogyakarta : Pro-U Media
 |
*Penulis merupakan mahasiswa Departemen Politik dan Pemerintahan, Universitas Gadjah Mada

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *