About Me


Fawwaz Rifasya

Namaku sejak lahir ialah Muhammad Fawwaz Rifasya. Aku adalah seorang anak laki-laki walaupun hasil USG memberikan prediksi visual bahwa aku seorang anak perempuan. Aku muncul ke dunia ini karena ulah Ayah kepada Ibu saat setelah pernikahannya pada tahun  1997. Dengan kata lain Ayah memiliki sumbangsih besar terhadap kehadiranku di dunia yakni karena telah menyelundupkanku ke dunia dari surga. Ayah dan Ibu menikah pada tanggal 27 April 1997 di gedung Graha Antariksa Bandung dan kawin di tempat yang berbeda.

Kala itu Ayah masih berusia 30 tahun dan Ibu berusia 25 tahun. Ayah sebenarnya masih muda namun karena kemunculanku beliau disebut sebagai orang tua. Ayah memiliki nama Suria Saputra dengan gelar Drs, hasil kuliah 7 tahun pada prodi akuntansi Universitas Syiah Kuala. Ayah lahir pada  tanggal 7 bulan 1 tahun 1967 dan merupakan anak ke-7 dari 9 bersaudara. Ayah sempat menjadi pengajar dan pendidik di salah satu SMA namun resign dengan alasan bukan passion-nya dan hijrah ke Bandung menjadi seorang akuntan di salah satu perusahaan swasta.

Lalu tentang Ibu. Ibu lahir ke dunia di saat kalender berada pada tanggal 25 bulan Februari tahun 1972 dengan nama Lutfiah Sobur. Sempat menjadi wanita karier di bank namun resign karena berumah tangga. Voli sempat menjadi hobby­­nya sebelum beralih bermain Hay Day di Facebook.

Fawwaz Balita

(Sumber : Dokumen Pribadi)

Kembali pada kedatanganku di muka bumi pada Sabtu, 9 Ramadhan 1419 Hijriah atau 10 Januari 1998 Masehi pada pukul 01.55 WIB. Aku merasa beruntung karena proses modifikasi dan perakitanku yang berbahan dasar sperma dan ovum selama 9 bulan 10 hari membuahkan hasil yakni tubuh mungil sepanjang 47 cm dengan massa 3000 gram ditambah bonus rambut ikal dan dua buah bola mata yang besar serta hidung dan bibir yang besar pula.

Kondisi dilematik emosional luar biasa meliputi kehadiranku di muka bumi. Aku terlahir diantara air mata keharuan dan kesedihan. Nenek dari sang Ibu bayi telah meninggalkan dunia tak lama berselang aku datang ke dunia ini.

Anak pertama dari seorang Ayah dan Ibu ini bernama Muhammad Fawwaz Rifasya. Terdapat harapan dan doa dibalik nama yang diberikan oleh kedua orangtuaku. Kata “Muhammad” menjadi kata pertama pada nama yang dimaksudkan supaya kelak aku dapat bersifat, bersikap dan berperilaku seperti yang dicontohkan oleh Baginda Rasulullah SAW. Menurut penjelasan Ibu, kata “Fawwaz” diambil karena terinspirasi dari sinetron di tahun 90’s yang diperankan oleh aktor favoritnya. Mungkin Ibu menyimpan harapan kelak aku dapat menjadi rupawan dan sukses seperti beliau ketika dewasa nanti. “Fawwaz” merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab  yang memiliki arti “yang menang” walau dalam realitasnya kadang dikalahkan oleh adik sendiri ketika PES (Pro Evolution Soccer) menjadi medan perang. “Rifasya” ialah bentuk revisi dari “Ripasa” atas usulan Abah (kakek, red) yang merupakan kependekan  dari “Huripna Bulan Puasa” dalam bahasa Sunda. Hurip dalam bahasa Sunda berarti hidup. Dapat disimpulkan bahwa kata Rifasya pada nama belakangku menggambarkan bulan kelahiran berdasarkan perhitungan bulan hijirah.

Fawwaz's Family

(sumber : Dokumen Pribadi)

Bicara tentang keluarga, aku memiliki keluarga yang sederhana nan humoris. Keluarga yang tegar dan tangguh menghadapi putaran roda kehidupan bersama-sama. Aku adalah putra sulung yang memiliki dua orang adik yang notabene lebih tampan dariku. Setelah dianalisis, muncul kesimpulan bahwa aku ialah hasil observasi, adik pertamaku merupakan hasil evaluasi dan adik bungsuku ialah hasil revolusi. Tidak akan lahir revolusi tanpa perjuangan keras, Ayahku ternyata seorang pejuang yang tangguh. Adikku si nomor dua bernama Muhammad Fadhil Akmal Saputra. Lalu adik bungsuku, si nomor tiga, sesuai akta kelahiran memiliki nama Muhammad Azka Fajrian.

 

 

The Leader of Alien

Bicara tentang titel kehormatan dari negeri khayalan, “The Leader of Alien” – bukan berarti saya terpengaruh dan terobsesi dengan hal-hal yang berkaitan dengan makhluk misterius, makhluk berakal selain manusia, hingga piring terbang. Walaupun kosakata “Alien” dalam bahasa Indonesia, kerap kali dimaknai dengan kata “makhluk asing,” saya memaknai alien tidak sebatas berhenti pada pemaknaan secara denotatif.

Pikiran liar saya memaksa untuk menginterpretasikan kata alien lebih jauh dari hal tersebut. Dengan mendudukkan “alien” sebagai makhluk asing, saya menganalogikan makhluk asing dengan kiprah agama Islam pada masa kini. Realitas memukul dan memaksa saya membuka mata bahwa keadaan ajaran Islam pada masa kini sedang dalam kondisi terasing. Pertumbuhan angka umat Islam yang semakin meningkat tiap waktunya tak dapat mematahkan premis yang saya utarakan begitu saja. Kuantitas umat Islam tak berbanding lurus dengan diakuinya secara adil ajaran Islam di belahan bumi ini. Diskursus-diskursus yang ada pasca peristiwa menara kembar WTC hingga hari ini telah gamblang membuat ajaran Islam tersudutkan dengan disadari atau tidak. Islam kerap kali berkonotasi dengan harem, poligami, radikal, tertutup, tak menerima keberagaman dan postulat negatif lainnya. Justifikasi yang lahir karena tak memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Labelling yang lahir karena diskursus dominan telah merasuk ke dalam tingkat rasionalitas sehingga orang dengan sadar bahkan tak sadar dapat mengamininya dan meyakini bahwa diskursus tersebut satu-satunya bentuk “kebenaran.”Dominasi diskursus yang ada resisten karena diskursus tandingan kerap tenggelam sebelum menyelam. Kondisi ajaran Islam kini terasing dalam keramaian. Ajaran Islam telah menjadi alien di planetnya sendiri.

Perjuangan dalam pertarungan diskursus dalam masyarakat harus dilakukan dan didukung oleh umat Islam sendiri. Keyakinan umat Islam sendiri atas kesempurnaan ajarannya harus mulai dipupuk dan disuburkan. Nomenklatur “The Leader of Alien” saya munculkan untuk memantik gelora semangat masing-masing individu untuk segera memimpin diri dan umat memperjuangkan kejayaan ajaran Islam kembali. Ajaran Islam hadir untuk semesta bukan hanya untuk golongan Islam sendiri.

Perjalanan Hidup

Tak banyak yang dapat saya ceritakan mengenai catatan kehidupan saya. Namun jika hal tersebut tidak saya usahakan rekam dengan aksara, maka perjalanan hidup yang telah saya lalui menjadi suatu kemubadziran, yakni suatu kesia-sian belaka. Tulisan-tulisan pada website ini merupakan upaya penebusan rasa bersalah saya karena tak merekam semua perjalanan hidup saya yang seharusnya dapat menjadi inspirasi hingga bahan evaluasi untuk introspeksi diri saya sendiri maupun pembaca. Dengan hadirnya kemudahan teknologi seperti ini, seharusnya kita dapat memaksimalkannya dengan terus berbagi pengalaman supaya orang lain tak melakukan kesalahan yang sama dengan apa yang kita sudah lakukan.

Rakerwil IV Himapol DIY- Jawa Tengah                 (captured by : Bagus Wicaksono)

Sedikit kumpulan aksara perjalanan hidup yang saya rekam dan himpun dalam satu file yang diharapkan dapat memotivasi diri untuk berlaku lebih baik dari apa yang telah saya lakukan dapat dilihat dengan mengklik pada teks ini.

Terimakasih telah menyempatkan untuk hadir dan membaca hasil akhir dari akumulatif perjalanan awal yang terus akan saya lakukan ke depannya. Semoga dapat menjadi motivasi dan bahan evaluasi diri untuk pembaca.

 Yogyakarta, 10 Januari 2017

Atas nama keegoan pribadi,

Muhammad Fawwaz Rifasya


[contact-form to=’[email protected]’ subject=’Kamu Mendapatkan Pesan dari Website mu’][contact-field label=’Nama’ type=’name’ required=’1’/][contact-field label=’Email’ type=’email’ required=’1’/][contact-field label=’Website/Blog’ type=’url’/][contact-field label=’Pesan’ type=’textarea’ required=’1’/][/contact-form]

–SOCMED LINK–