Merasa Belum Merdeka


*

Muhammad Fawwaz Rifasya | Depok, Indonesia

 

Merasa Belum Merdeka

Ilustrasi oleh Fenindha Nur Fatimah

 

“Merdeka!” ucap seorang anak penjual tisu di perempatan Jalan Margonda. Muka yang terhias debu serta baju berbau asap truk yang hilir mudik melintasi gemerlap dan riuhnya kota Depok itu menahan perut menjinakkan lapar. Ucapan lantang penuh semangat dari seorang bocah yang entah dari mana energinya. Seragam putih merah lengkap dengan topi tampaknya memberikan pengaruh pada semangatnya pada pukul sembilan, lengkap dengan rembulan dan perangkat malamnya.

Berdiam lapar di tempat orang banyak menyisakan makanan untuk tempat sampah. Sudah kenyang katanya. Tak bersyukurkah ia tepat di muka ada insan mengencangkan ikat pinggang, “untuk mengganjal lapar” katanya dalam derau. Inquiri diri meluap. Apakah hanya perutnya yang menjadi motivasinya?

Ternyata ada tiga lambung kosong selain miliknya. Kadar asam dalam lambung yang meningkat sedang bersenda gurau dengan cacing-cacing perut, ramai sekali mereka berbincang dalam keempat perut yang bingung harus berekskresi apa esok pagi.

Ucapan yang sama sempat kuteriakkan lantang di atas langit Boyolali, Magelang, dan Semarang. Tiga satu empat dua meter di atas permukaan laut menjadi saksi teriakkan lantang. “Merdeka!”, ucapku yang semenjak dari pos tiga meninggalkan makan demi mengejar momentum. Tepat setelah potret diabadikan, aku duduk menikmati eksotisnya Merapi, Sumbing, dan Sindoro. Lalu, sebuah tanda tanya hinggap di pikiranku. “Merdeka dari apa aku ini?

Untung itu hanya pertanyaan nakal karena kilasan pelajaran-pelajaran sejarah sejak SD kembali teringat. Susah payah bendera yang kupegang itu dahulu dikibarkan. Perjuangan darah hingga diplomasi menjadi bukti ikhtiar para pendahulu. Bahkan saking epiknya para founding fathermenolak pemberian kemerdekaan dari negeri yang katanya saudara tua. Bukan karena prestise, zaman dulu belum ada Instagram untuk pamer hal semacam itu.

Penolakan itu ada karena para founding father sadar bahwa yang dibutuhkan bukanlah sebatas simbolik kemerdekaan, tetapi kebebasan secara esensi. Kebebasan yang hakiki dimiliki oleh seluruh rakyat. Bukan hanya elite, tetapi hingga rakyat kecil. Bukan hanya konglomerat, tetapi hingga rakyat melarat.

Dengan senyuman puas di puncak Merbabu itu aku bangkit dan melempar senyum puas akan kemerdekaan yang telah dirasakan seluruh rakyat Indonesia. Ternyata generasi penerus bangsa pasca founding father ini tetap bisa mempertahankan kemerdekaan untuk seluruh rakyat Indonesia sesuai dengan cita-cita yang susah payah dirangkai dan direalisasi kurang lebih tiga ratus lima puluh tahun lamanya. Aku sangat bersyukur dalam senyum itu, seluruh rakyat Indonesia telah lepas dari ketakutan akan penindasan sistemik dan fisik.

Malam ini rasanya aku ingin menyesal tersenyum siang itu setelah melihat anak yang harusnya sedang mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah dan menikmati hangat dekap suasana keluarga di rumah. Nomenklatur kata “seluruh” dalam benakku siang itu ternyata harusnya diganti “sebagian.

Ketertindasan sistemik membuat perekonomian pelik. Kerja paksa generasi muda bangsa di masa penjajahan bertransformasi menjadi “terpaksa kerja” karena butuh sesuap nasi untuk ayah ibu dan adik.

Dia, harus berjualan susah payah dengan harga tisu yang entah produsen, distributor, atau siapa yang memiliki keuntungan lebih besar. Dia, bisa makan setelah uang hasil penjualannya mencukupi dan tetap harus membagi pada tiga perut kosong lainnya di rumah sekecil apapun porsinya. Mungkin dia bisa makan pula dari beberapa orang yang berempati di resto itu dan mentraktirnya makan seperti tadi malam, harusnya dia tetap menolak makan di tempat karena takut adiknya tidak merasakan makanan yang sama.

Apakah kondisi seperti ini hanya ada di tetangga ibu kota negara ini? Apakah ada kisah yang lebih pilu dari pertemuan singkatku dengan anak yang berjualan tisu itu?

Silakan renungkan. Teriakkan “Merdeka!” anak itu selebrasi atau angan yang belum terwujud?

Apakah kita sudah benar-benar merdeka?Jangan-jangan kita terjebak dalam tokenisme kemerdekaan!

 

*tulisan ini diterbitkan pada Selasar dengan judul “Kemerdekaan yang Tidak Menyeluruh” pada tanggal 22 Agustus 2017 lalu (https://www.selasar.com/jurnal/37620/Kemerdekaan-yang-Tidak-Menyeluruh)

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *