Menguak Pria Di Balik Dilan! 4


 Muhammad Fawwaz Rifasya | Bandung, Indonesia
Pidi Baiq, Saya dan Kawan-Kawan

Foto Bersama Pidi Baiq di Cafe The Panas Dalam, Bandung (19/1)

Hujan menyempatkan mampir di Kamis sore. Parahyangan tetap gemerlap tak memedulikan akankah hujan bertamu atau tidak. Bandung yang dikenal romantis, membuktikannya dengan angin yang menggiring insan-insan di dalamnya untuk saling bersua, menghangatkan diri dengan berdekap dalam kata, saling memandang dalam tawa ditemani panasnya segelas bandrek buatan anak buah om Budi di jalan Ambon.

Bincang insan dalam udara dingin. Cafe the Panas Dalam menjadi titik temu, insan-insan yang bersua berdekap melanggengkan ukhuwah maupun yang sedang bersepakat dalam aksara. Aku, Uty, Mony dan Daniel merupakan golongan insan yang sedang mengokohkan sulaman tali ukhuwah, beda dengan teh Titin yang baru saja selesai ngobrol serius bareng om Budi di belakangku.

Fokus saja pada insan-insan yang sedang bersua di hadapan segelas bandrek dan cangkir jus kupi di meja nomor 13. Iya aku dan teman-teman Jogjaku. Teman-teman yang biasa bersua ketika ada urusan akademik maupun politik. Obrolan tentang aktivitas liburan pemutus canggung. Kebetulan mereka bertiga melepas penat dan menghabiskan tanggal merah kuliah di Bandung.

Menarik, magnet cafe ini terletak pada pemiliknya. Teman-temanku ini hanya ingin berfoto dengan Pidi Baiq, orang yang membuat quotes di mana orang-orang selalu menjadikannya orientasi foto ketika singgah di alun-alun kota.

Quotes Pidi Baiq di Alun-Alun Kota Bandung

Quotes Pidi Baiq di Alun-Alun Kota Bandung (Sumber gambar: ranseltravel)

Pidi Baiq, terkenal juga karena menulis beberapa novel best seller. Salah satu novel yang hitz belakangan ini yakni dikenal dengan Dilan atau berjudul sesuai dengan covernya “Dia adalah Dilanku Tahun 1990“. Novel tersebut muncul ketika aku duduk di bangku kelas X (sepuluh) akhir, namun namanya kian booming ketika novel ini difilmkan dibawah besutan Fajar Bustomi dan Pidi Baiq itu sendiri.

Cover Dilan 1990

Cover Novel Dilan 1990
(sumber gambar : cloudfront)

Ayah, panggilan akrab Pidi Baiq – kebetulan sedang berada di Cafe tersebut. Sebetulnya keberadaan Pidi Baiq di cafe tersebut sudah kuketahui melalui chat Line dari anaknya yang kutanyai sebelum berangkat sebelum hujan tadi sore. Timur, merupakan anak dari Pidi Baiq yang kebetulan saling kenal denganku. Kami berdua pernah berada pada satu pasukan yang sama saat menjadi pengibar bendera negara-negara Konferensi Asia Afrika ke-59. Kami bukan Paskibra, cuma iseng dan nyaman hidup berseragam Pramuka.

Daniel dibujuk Uty untuk meminta izin foto bersama Pidi Baiq. Ayah, tidak pernah sepi pengunjung. Kebetulan ketika Daniel memanggilnya, Ayah sedang menerima kunjungan dari rekan-rekan seusianya. Daniel dengan kulit kuning langsatnya tetap berani melesat meminta izin foto dalam obrolan para tetua tersebut. Ayah pun menoleh dan menatap mata Daniel yang kian tenggelam ketika malam, “sebentar”.

Daniel akhirnya keluar dari kepulan asap batangan putih yang rajin dihisap para tetua tersebut. Harap-harap cemas terjadi di meja nomor 13 dalam cafe pojokan jalan Ambon tersebut. Kami takut Ayah tersinggung dan merasa terganggu dengan angan kami yang ingin berfoto dengannya.

Tak lama kemudian dengan senyum sederhananya, Ayah melangkah ke meja kami. “Halo, dari mana nih?” ucap Ayah beriringan dengan suara kursi meja sebelah yang digeser ke depan meja kami. Aku dengan sigap menjawab “UGM yah, hehe”. Ya aku sedikit bingung sebenarnya ketika ditanya begitu. Kalo aku jawab Bandung tidak akan terlalu menarik untuk melanjutkan obrolan. Untuk membayar effort Ayah yang sudah jauh-jauh dari meja sebelah menarik kursi, maka aku menjual nama UGM supaya Ayah tidak terlalu menyesal dan dapat betah di meja nomor 13 ini.

“Wah UGM Yogyakarta? Jauh amat. Ngapain ke Bandung?” Ya dari pertanyaan pemecah suasana segan tersebutlah obrolan-obrolan santai dimulai. Menanyai asal daerah kami masing-masing hingga mendengarkan pendapatnya tentang Yogyakarta dan kultur Jawa yang kian memudar ujarnya. Setelah kami sudah aga santai dan terbiasa dengan obrolan tersebut meski usia terpaut jauh, Ayah menanyakan maksud kami. Dengan sigap kembali aku menjawab “foto yah sama mau bikin beberapa video ucapan ulang tahun”. Ayah hanya menanggapi membuat video ucapan ulang tahun. Salam dan ucapan sederhana memang, semoga berkesan bagi orang yang diucap dalam video.

Aku yang kian gregetan akhirnya ngelunjak dengan meminta kembali “foto yah” di akhir sesi video-video tersebut. Permintaan itu pun dipotong dengan permintaan Ayah kepada om Budi untuk diambilkan rokok. “Dua bungkus ya Bud! Nuhun” ujar Ayah sebelum melanjutkan pertanyaan “kalo kesini silakan curhat, jangan malu-malu! Asik-asikan aja”

Karena bingung mau curhat apa akhirnya aku coba menanyakan tentang Dilan yang memang sedang tenar di kancah nasional. Pertanyaan yang sebenarnya menjadi pertanyaan banyak orang, males sih tanya begitu tapi bingung tanya apa. Pertanyaan terlontar dari mulut yang abis nyeruput jus kupi yang di atasnya terdapat taburan biji kopi. Ayah yang mulutnya berasap menjawab dengan tidak terduga. Kupikir Ayah akan menjawabnya dengan clue-clue atau justru merahasiakannya dengan menolak menjawab. Nyatanya tidak. Jawaban tersebut tak terduga dan entah kenapa tak membuatku penasaran lagi siapakah Dilan sebenarnya.

Dengan senyum sederhananya diiringi sedikit tawa ayah menjawab pertanyaan mainstream tersebut.

“Dilan ya ada. Dilan itu orang. Dilan itu ya hamba Allah sama kaya kita. Rasulullah juga kalian ga perlu tau gimana rupa wajahnya tapi tetap diteladani.”

Memang tidak menjawab sih tapi jawabannya tak membuat penasaran lagi dengan sosok yang katanya sanggup menanggung beratnya beban rindu tersebut. Yang kupaham, Ayah berusaha menyampaikan bahwa resapilah nilai-nilai yang bisa dipelajari dari seorang Dilan, apa itu sikap sifat yang perlu ditiru atau yang dihindari. Kupikir Ayah ingin kita tak terpaku dengan “simbolik” Dilan dengan jaket jeans dan motor CB100 jadulnya.

Obrolan berlanjut dan masih tentang Dilan. Aku penasaran kenapa Ayah tak menghadiri Premiere Film Dilan di Jakarta tepat sehari sebelum kita mengobrol malam itu. Tiap kata-katanya selalu ada nilai yang berusaha dia titipkan pada remaja yang sudah bukan remaja tanggung seperti kami. Ayah menjawab dan menggugahku, “Bahagia itu kontekstual, tadi aku ditanya sama beberapa orang di twitterku dan instagramku ‘kok ayah ga dateng premiere sih? harusnya ayah dateng dan ikut bahagia. Dilan kan karya ayah, harusnya ayah ikut merayakanannya’. Aku memang ga hadir Premiere film Dilan, tapi bukan berarti aku ga ikut bahagia. Definisi bahagia tuh beda-beda. Bahagia itu kontekstual. Gimana kalo aku lebih bahagia dalam sepi, bareng anak-anak yang nongkrong di cafe dan anak-anak yatim sambil makan bareng? Kenapa orang selalu punya anggapan bahwa bahagia selalu ada dalam keramaian? Kasian dong sama orang-orang yang berbahagia dalam sepi bahkan orang-orang yang bahagia dengan menyendiri dan merayakan sendiri.”

Aku berhasil dibuatnya speechless dalam dingin pasca hujan tersebut. Tertegun kami semua dan suasana hening di meja nomor 13 tersebut terjadi beberapa detik sebelum Ayah mengintervensi nyenyat tersebut dengan pertanyaan “Ayo dong curhat? Sedang ada masalah apa?”

Akhirnya aku sadar ketika Ayah bertanya demikian, bahwa Ayah tidak suka ketika dia hanya sekedar menjadi objek foto, itulah mengapa alasan dia selalu mengajak curhat atau diskusi dengan menghampiri meja para pelanggannya. Dia ingin menghargai tamunya selayaknya tamu, bukan sekedar fans yang sengaja hadir ngopi untuk mendapatkan buah tangan fotonya atau tandatangan pada bukunya sendiri. Ayah secara implisit berpesan dalam setiap obrolannya bahwa kita setara, tidak ada jenjang, dan Pidi Baiq juga adalah seorang manusia biasa.

Kesadaran itu yang membuatku terus menanggapi pertanyaan-pertanyaannya. Aku mengorbankan cerita-cerita pribadi ketiga temanku tersebut sebagai materi curhat pada Ayah.

Sampailah pada sesi pra-nikah. Aku memantik diskusi malam itu dengan pertanyaan mengenai menikah. Ayah tersenyum dan mulai menceritakan kisah hidupnya saat menikah muda. “Aku dulu menikah saat skripsi. Lagi pusing-pusingnya menyusun skripsi aku menikah. Biar pusing aja sekalian. Biar pusingnya ga dinanti-nanti. Aku menikah belum memiliki pekerjaan apalagi pendapatan. Pusing kan?”

“Menikah itu ketika diri merasa siap dan itu mendesak untuk dilakukan,” sambung Ayah sambil menikmati nikotin yang dicap bibirnya berulang.

“Umur berapapun ketika siap ya lakukan, nikah itu bukan suatu perlombaan, bukan siapa yang cepat dia yang menang,” sarannya membujuk kami untuk segera menikah karena Ayah yakin kami siap. “Istikharah deh, pasti jawabannya iya” tambahnya untuk meyakinkan kami untuk segera ambil keputusan.

Di sela-sela rujukan menikah tersebut, dia melontarkan kumpulan aksara dari pikirannya dan sangat memotivasi, bahkan dia mengatakan berulang dan tak membosankan.

“Berani ambil resiko, ketika salah pun langit tidak akan runtuh. Jikapun runtuh, yang tertimpa bukan hanya kamu tapi seluruh manusia. Jikapun hanya kamu yang selamat, untuk apa kamu hidup sendirian kesepian?”

Ayah kian penasaran, “nunggu apa sih sebenernya?”

Dengan spontan Uty menjawab pertanyaan yang kian membuatnya terdiam dalam setiap kata yang berbentur dengan idealisnya, “tunggu lulus dulu yah, fokus kuliah” menutup kesunyian balasan aksara.

Ayah sudah paham jawaban klise semacam ini. Ayah menasehati kami berdasarkan pengalaman-pengalamannya ketika berada pada usia dan posisi yang sama. Dan semua cerita tentang berani mengambil resiko, ditutup dengan pengalamannya,

“Mending menikah rasa pacaran daripada pacaran rasa menikah. Pacaran rasa menikah itu rugi karena belum tentu” ujarnya dalam wajah yang kian tenggelam karena bayangan lidah topi sedikit demi sedikit memakan cahaya di wajahnya.

“Nunggu apa memangnya lulus kuliah?” tanya ayah geli.

“Tunggu 25 tahun ya?” lanjut ayah disambut senyum-senyum gestur iya dari empat anak rantau ini.

“Itu semua hanya afdolisme. Menikah di umur 25 tidak menjamin bahagia. Aku udah bilang tadi, bahagia itu konteks. Masyarakat kita itu selalu terjebak dalam afdolisme. Kalo ga ada air padahal bisa tayamum, tapi serasa ga afdol makanya sibuk cari sana sini air. Kalo ga ada makanan lain padahal bisa makan babi, tapi serasa ga afdol kalo ga cari ayam di hutan.”

Kita hidup dalam kontruksi masyarakat. Aku sepakat dengan ayah tentang afdolisme. Masyarakat selaku arsitek norma dan nilai belum tentu benar membuat bahagia menurut kita.

“Ijazah ITB ku sampai hari ini belum aku ambil, ya buat apa? Kerja aja aku ga ditanyain itu. Ijazah itu hanya afdolisme, afdolnya setelah lulus ada bukti. Padahal yang dicari dunia sekarang skill bukan sekedar lembaran nilai-nilai kuliah,” celetuk ayah mengakhiri nasihatnya.

Suasana jalan Ambon kian sendu tuk merenungkannya. Cafe the Panas Dalam yang hangat mampu memecah rumor horror tentang jalan Ambon, meski untuk sesaat. Merenung sambil update instastory, gaya kontemplasi generasi milineal.

Instastory yang lebih rajin ku-update daripada hafalan Quran tersebut merupakan amunisi baru untuk memantik diskusi kembali bersama ketiga temanku dan sang tuan rumah, Pidi Baiq.

“Tapi yah, banyak yang menikah hanya mengejar prestise. Demi like di Instagram. ‘Panjat sosyel’ atau ‘ikut-ikutan’ sampai ku bingung itu siap atau hanya latah.”

Celetukanku tersebut terinspirasi juga dari caption foto Instagram pembina asramaku siang sebelum hujan tadi. Sambil menunggu balasan Timur di Line tentang keberadaan ayahnya, ku menghabiskan waktu hidupku untuk membaca … caption dan instastory orang-orang. Ada tiga alinea yang membantuku tuk merenung dari captionnya :

“Menikah bukan kaya beli iPhone X dan 8; Seakan cuma biar derajat sosyelnya naik.
Apalagi kayak beli Xiaomi;
Seakan biar sama kayak mayoritas umat.

Menikah bukan kayak naik motor di 5 detik terakhir lampu merah;
Kalo yang lain maju, pengen ikut-ikutan maju, kalo yang lain pada nikah pengen ikut-ikut nikah.

Menikah bukan kayak Dilan nembak Milea;
Karena kamu butuh peluru tambahan buat nembak Bapak dan Ibunya, bahkan bisa jadi sekeluarga besarnya.”
(Fathin Naufal2018)

Ayah selalu punya jawaban, dasar pujangga!

“Cuma ngejar likes di Instagram ya? Aku saja ketika Dilan menjadi best-seller gak’ ku upload. Norak.”

Kerendah hatian menjadi hal unik yang dapat kupetik malam ini. Teringat satu kata mutiara dari Ali bin Abi Thalib :

“Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu,   dan yang membencimu tidak percaya itu.”

Pada akhirnya Ayah mau diajak foto setelah berdiskusi selama hampir dua jam. Salah satu kesenangan yang kudapat saat kembali singgah pulang ke Bandung di awal tahun 2018 ini, motivasi yang membuat pikir jiwa dan akal.

 Itulah sang pria dibalik kisah Dilan. Pria ramah dan lemah lembut. Selalu berusaha bermanfaat dengan mendengar kegelisahan-kegelisahan. Selalu membuat merenung dan termenung dalam pergulatan pikir akibat kata-katanya.

Kututup dengan doa dari tulisan Pidi Baiq sebelum film Dilan lahir :

“Ya Allah doaku sederhana. Tetapkanlah pikiran kami selalu melangit dan dengan jiwa yang terus  membumi.”

Kurasa Allah telah mengabulkannya.

Kamis, 18 Januari 2017

Cafe The Panas Dalam, Bandung


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 thoughts on “Menguak Pria Di Balik Dilan!